The Age of Digital History

Julian Stodd's Learning Blog

Cath and i were having a heated discussion this morning: one of our friends reported that out of 5,700 episodes of PlaySchool (a favourite childhood TV programme) only 1,900 are known to survive. Her comment was that nobody would ever watch them again and it was a waste of space.

My response was that they would, one day, form an invaluable archive giving us insight into things as diverse as gender equality in the 1960’s, developments in technology and even the evolution of the spoken language. Much of this won’t be apparent in our lifetime, but it prompted me into a broader thought.

The evolution of history History used to be about transience: today, it’s increasingly about the challenges of permanence

The default position of history has always been transience: books, scrolls, buildings, bodies, all decay. But today, in the digital realm, the default position of history is permanence.

The default writer of

View original post 755 more words

Advertisements

PENGANGGURAN HARAKI

Diary Kehidupan

Sebuah catatan lama

Jamal Zawari Ahmad

Syaikh Muhammad Ghazali rahimahullah berkata: “Dalam suasana pengangguran terlahir ribuan keburukan dan menetas berbagai bakteri kebinasaan, jika kerja merupakan pesan kehidupan, maka para penganggur adalah orang-orang yang mati, dan jika dunia ini merupakan efek dari tanaman kehidupan yang lebih besar, maka para penganggur adalah sekumpulan manusia yang paling pantas dikumpulkan dalam keadaan bangkrut, tidak ada panen bagi mereka selain kehancuran dan kerugian”.

Ada beragam penyakit tarbawi yang sangat berbahaya, jika ia tersebar dalam barisan dakwah, dan mendapatkan tempat dalam jiwa personelnya, maka pasti yang terjadi adalah keterpurukan, keguguran, menarik diri dan meninggalkan kancah dakwah secara diam-diam, kemudian kebangkrutan dalam arti yang luas dan menyeluruh

View original post 796 more words